HIMAMIKA STMIK BANI SALEH
Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Informatika STMIK Bani Saleh Bekasi
03.41.00

'

ORGANISASI MAHASISWA
oleh: Aji Putra Wicaksana

Pada dasarnya organisasi mahasiswa merupakan suatu wadah yang dibentuk dengan tujuan untuk menampung dan menyalurkan aspirasi mahasiswa yang sarat akan idealis dan kreativitas. Dahulunya, alasan mengapa terbentuknya organisasi ini ditujukan hanya sekedar untuk memfasilitasi kegiatan–kegiatan yang dilaksanakan oleh mahasiswa dengan tujuan sebagai ajang keterampilan mahasiswa sehingga mahasiswa diharapkan tidak jemu dalam melaksanakan aktifitas rutin kampus yaitu perkuliahan. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman, organisasi mahasiswa juga berperan sebagai wahana mahasiswa dalam menganalisis, mengkritisi, serta menyampaikan pandangan terhadap gejolak–gejolak sosial dan budaya yang tidak hanya dalam ruang lingkup kampus tetapi juga telah berkembang hingga ke lingkungan masyarakat secara umum. Tentu saja, perkembangan tersebut tidak lepas dari kematangan serta kedewasaan dari organisasi mahasiswa tersebut hingga saat ini mahasiswa (melalui organisasi mahasiswa) seringkali dikenal sebagai pembela rakyat yang teraniaya dan tidak dapat dipungkiri lagi bahwa mahasiswa memiliki kedekatan emosional dengan rakyat.


Kilas Balik Organisasi Mahasiswa
Mahasiswa diharapkan untuk mampu menjadi agent of change dari persoalan–persoalan yang melanda bangsa. Dapat kita saksikan bahwa mahasiswa telah dua kali mampu menggulingkan pemerintahan yang dianggap tidak sesuai dengan cita–cita bangsa. Mahasiswa mampu bersikap sensitif terhadap permasalahan–permasalahan tidak hanya dibidang sosial dan budaya saja, tetapi juga pada bidang–bidang ekonomi, politik, dan keamanan. Hal ini semakin memperkuat identitas mahasiswa sebagai elit masyarakat atau masyarakat ilmiah yang tidak pernah padam idealismenya.

Melalui gerakan mahasiswa 1966 dan 1998, telah terbukti bahwa mahasiswa melalui organisasinya baik yang bersifat internal kampus maupun eksternal kampus mempunyai bargaing position tersendiri yang ikut serta dalam menentukan maju atau mundurnya negara dan bangsa. Pada tahun 1966, kita mengenal adanya DM UGM ( Dewan Mahasiswa Univ. Gadjah Mada ), DEMA ITB ( Dewan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung ), dan Senat–senat Mahasiswa lainnya. Organisasi–organisasi tersebut akhirnya melebur menjadi satu menjadi KAMI ( Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia ) yang lahir dari gagasan mahasiswa Univ. Indonesia. KAMI merupakan suatu bentuk representasi mahasiswa Indonesia dalam menyuarakan protes terhadap ketidakadilan yang dilakukan oleh rezim Soekarno yang menjadi pemerintah pada saat itu. Kita mengenal protes tersebut sebagai TRITURA ( Tiga Tuntutan Rakyat ). Pada tahun 1998, Organisasi mahasiswa pun bangkit kembali dalam menanggapi persoalan bangsa yang berupa jatuhnya perekonomian negara dan timbulnya krisis multidimensi yang disebabkan oleh rezim Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun. Sekali lagi organisasi mahasiswa menunjukkan posisinya yang tak tergoyahkan sebagai pejuang bangsa yang selalu siap memperjuangkan tidak hanya aspirasi mahasiswa saja tetapi juga tetapi juga amanat penderitaan rakyat.

Potret Organisasi Mahasiswa Hari Ini
Saat ini organisasi mahasiswa cenderung lebih terstruktur. Bahkan dibeberapa universitas, organisasi mahasiswa telah berani mengusung suatu konsep pemerintahan mahasiswa dimana kita temukan adanya legislatif dan eksekutif mahasiswa sebagai pelaksana pemerintahaan tersebut. Disamping itu sebagai salah satu ciri adanya pemerintahan mahasiswa, Rektor sebagai penanggung jawab tertinggi memberikan wewenang penuh pada organisasi mahasiswa untuk menyelenggarakan aspek–aspek kemahasiswaan. Artinya, disini terjadi sharing administration antara Rektor dan Organisasi mahasiswa sehingga terjalin suatu tali koordinasi antara Rekor dan Organisasi mahasiswa. Dalam praktek penyelenggaraannya, ketika Rektor ingin membentuk suatu kebijakan di universitas, maka Rektor melibatkan pandangan mahasiswa yang merupakan golongan mayoritas dikampus. Pandangan mahasiswa disampaikan melalui perwakilan–perwakilannya sehingga kebijakan yang nantinya dihasilkan akan bersifat adil bagi seluruh pihak. Dan begitu pula dalam hal ketika organisasi mahasiswa ingin membentuk kebijakan di tingkat mahasiswa, Rektor mempunyai hak memberikan pandangan tentang bagaimana sebaiknya kebijakan tersebut tanpa bermaksud untuk mengintervensi atau mendikte organisasi mahasiswa. Sebagi contoh, dalam konsepsi kemahasiswaan di Institut Teknologi Bandung disebutkan bahwa, “Organisasi kemahasiswaan mengakui Rektor sebagai penanggung jawab tertinggi di lingkungan kampus tetapi organisasi kemahasiswaan tidak menghamba kepada Rektor”. Artinya disini ada suatu independensi yang berupa batasan–batasan teritorial yang diakui oleh kedua pihak.

Hal diatas tentunya suatu hal yang sudah sewajarnya apabila kita mengaitkan dengan Keputusan Mendikbud No. 155/U/1998 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi dimana pasal 2 dijelaskan bahwa “Organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi diselenggarakan berdasarkan prinsip dari, oleh dan untuk mahasiswa dengan memberikan peranan dan keleluasaan lebih besar kepada mahasiswa”. Dari penggalan kalimat “berdasarkan prinsip dari, oleh dan untuk mahasiswa“ tersirat bahwa organisasi mahasiswa mempunyai independensi yang terjamin oleh peraturan perundangan. Arti dari independensi organisasi mahasiswa ialah bahwa dalam menyelenggarakan kelembagaannya, organisasi mahasiswa harus terlepas dari sebagal bentuk intervensi baik berupa langsung maupun tak langsung dari jajaran universitas. Struktural universitas (Rektor beserta jajarannya) hanya berperan sebagai partner atau mitra dari organisasi mahasiswa. Jadi dengan adanya prinsip tersebut, kedaulatan yang berlaku ialah kedaulatan mahasiswa. Disamping itu, prinsip tersebut juga mengharuskan mahasiswa dan pihak–pihak yang terkait dengan organisasi mahasiswa mempraktek azaz demokrasi serta menghormati kedaulatan yang berada tangan mahasiswa tersebut. Prinsip tersebut lalu diperkuat dengan kalimat “memberikan peranan dan keleluasaan lebih besar kepada mahasiswa”, yang berarti bahwa organisasi mahasiswa mempunyai daerah tersendiri yang diakui secara hukumk dan harus dihormati oleh seluruh pihak. Dengan demikian kedudukan organisasi mahasiswa adalah kuat sesuai dengan peraturan perundangan.

Dengan berlandaskan Keputusan Mendikbud yang telah disebutkan diatas, Pedoman Organisasi Mahasiswa setempat, dan aturan–aturan lainnya, organisasi mahasiswa dituntut untuk bersikap profesional serta mampu melahirkan kader–kader bangsa yang unggul, terampil,dan teruju sesuai dengan tuntutan zaman. Perkembangan organisasi mahasiswa ini tentu tidak akan lepas dari curahan perhatian seluruh civitas akademika sehingga dengan sebandingnya kualitas akademik dan kemahasiswaan maka akan meningkatkan pula kualitas suatu universitas di mata masyarakat.

Tulisan ini berdasarkan pengetahuan si penulis dari kepemimpinannya dan keaktifan dirinya di Organisasi Mahasiswa Internal kampus atau eksternal kampus.
(Penulis adalah mahasiswa Lulusan STMIK Bani Saleh Jurusan Sistem Informasi, angkatan 2003)
Read On 0 komentar
03.08.00
Kuliah, Tidak Sekedar Mendapatkan Gelar Kesarjanaan
oleh: Aji Putra Wicaksana,.S.Kom

Dalam tulisan ini kita akan melihat bahwa kuliah bukan lah sekadar mencari gelar sarjana.

Menapaki tahun 2009 ini, jumlah lulusan SMA semakin meningkat. Salah satu SMA, sebut saja SMA XXX di wilayah Bekasi telah meluluskan sekitar 150-an siswa-siswinya. Berapa kali lipat lagi jumlah keseluruhan lulusan SMA tahun ini?

Fenomena di atas dibarengi dengan berramai-ramainya para lulusan SMA menuju Perguruan Tinggi. Melanjutkan pendidikan dari SMA ke Perguruan Tinggi sudah menjadi Gaya Hidup (Life Style) di kalangan masyarakat kita.

Di sebuah Perguruan Tinggi di Kudus, Seorang mahasiswa sebut saja namanya Santi, yang terkesan santai dalam menjawab, saat dimintai keterangannya tentang apa orientasinya melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Dengan nada setengah bercanda, diapun mengatakan kuliah hanya untuk mengikuti gaya hidup. Hitung-hitung setelah lulus ia dapat menyandang gelar kesarjaan sekaligus di Perguruan Tinggi yang sedang ditempatinya sekarang.

Itulah secuil gambaran dari sekian banyak mahasiswa seperti Santi, yang berpendapat demikian. Tetapi tak sedikit pula mereka yang memang benar-benar melanjutkan pendidikan untuk menambah ilmu pengetahuan sesuai disiplin ilmu yang telah mereka pilih, kehidupan perkuliahan juga akan membina soft skills seperti kemampuan bekerja sama multidisiplin, keterampilan berorganisasi, keterampilan presentasi, dan komunikasi, serta mengembangkan bakat dan minat.

Seorang Santi sebagai contoh kecil misalnya, dalam pemikirannya, perkuliahan hanya sebagai media untuk mendapatkan gelar kesarjanaan semata. Sebagai seorang mahasiswa dia tidak menemukan kendala dalam perkuliahannya. Hadir tepat waktu di kelas perkuliahan, duduk, absen, mendengarkan apa yang dosen terangkan, serta disiplin dalam mengerjakan tugas dengan baik. Inilah ritual yang biasanya dilakukan Santi selama mengikuti perkuliahan.

Memang apa yang dilakukan Santi tidak ada yang salah, tetapi di sisi lain apa yang ia akan dapatkan setelah menyandang gelar yang ia inginkan. Hanya secarik kertas Ijazah berisi sejumlah mata kuliah beserta nilainya dalam bentuk Indeks Prestasi (IP).

Gelar yang mentereng bukan jaminan dalam dunia kerja, tetapi lebih diutamakan pada Soft Skill yang ia miliki. Fenomena pada Santi di atas sangatlah bertolak belakang dengan pandangan salah satu tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Menurut beliau, manusia memiliki daya jiwa cipta, rasa, dan karsa. Pengembangan manusia yang seutuhnya menuntut pula pengembangan ketiga daya jiwa tersebut secara seimbang. Jika hanya menitik beratkan pada satu daya saja, tentu saja akan menghasilkan ketidakutuhan dan ketidakseimbangan bagi pengembangan manusia itu sendiri.

Dikatakannya juga pendidikan yang hanya didasarkan pada aspek intelektual belaka, hanya akan menjauhkan dan mengisolasikan manusia tersebut dari masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Jika hal ini berlanjut terus akan menjadikan manusia itu sendiri kurang manusiawi (Humanis). Jadi dalam pendidikan harus ada keseimbangan antara ketiga aspek tersebut.
Read On 0 komentar
01.50.00
IPK Tinggi dan Organisasi Mahasiswa, mana yang lebih berguna
oleh: Aji Putra Wicaksana,.S.Kom

Pentingnya IPK Tinggi dan Organisasi Mahasiswa pada zaman sekarang

IPK Tinggi dan Organisasi Mahasiswa, mana yang lebih Penting?

Sebelum memilih mana yang lebih berguna diantara keduanya, kita perlu mengetahui latar belakang mengenai IPK Tinggi dan Organisasi Kemahasiswaan.

IPK singkatan dari Indeks Prestasi Kumulatif yang merupakan ukuran kemampuan mahasiswa sampai pada periode tertentu yang dihitung berdasarkan jumlah SKS (Satuan Kredit Semester ). Tiap mata kuliah yang telah ditempuh. Ukuran nilai tersebut akan dikalikan dengan nilai bobot tiap mata kuliah kemudian dibagi dengan jumlah SKS mata kuliah yang telah ditempuh dalam periode tersebut.

IPK dapat diperoleh dengan adanya kerjasama antara dosen dan mahasiswa. Dosen akan memberikan nilai kepada mahasiswa sebelum kuliah dimulai pada awal semester. Biasanya para dosen menetapkan aturan selama kuliah berlangsung yang akan disepakati keduanya pada semester tersebut. Aturan itu bisa terdiri dari


A. Attendance
Kehadiran mahasiswa tiap jam, pekuliahan ini tidak hanya kehadiran yang dinilai
oleh dosennya tetapi juga adanya keaktifan mahasiwa selama jam perkuliahan
berlangsung.

B. Tugas
Dosen akan memberi tugas kepada mahasiswa. Tugas bisa dikerjakan tiap individu
atau kelompok tergantung dosen pengamnpu.

C. Nilai UTS (Ujian Tengah Semester)
Ini dilaksanakan tiap tengah semester. Beberapa dosen ada yang memberikan soal
UTS tapi ada juga yang tidak.

D. Nilai UAS(Ujian Akhir Semester)
Nilai ini akan diperoleh mahasiwa pada akhir asemester dengan mengikuti ujian
yang dilaksanakan oleh masing-masing dosen.

IPK Tinggi dapat diperoleh mahasiswa jika tiap aturan dan nilai telah dicapai dengan hasil yang memuasakan (maksimal).

IPK ini dibagi dengan 3 tahap predikat kelulusan :
1. 3,51 - 4,00 = predikatnya : Lulus dengan pujian
2. 2,76 - 3,50 = predikatnya : Sangat memuaskan
3. 2,00 - 2,75 = predikatnya : Memuaskan

Organisasi Kemahassiswaan
Organisasi kemahasiswaaan merupakan suatu bentuk aktiifitas ekstra kulrikuler dengan maksud untuk mengembangkan potensi diri mahasiswa ke arah peningkatan wawasan, rasa keagamaan, nilai sosial dan kesetiakawanan dalam kemanusiaan, pemupukan minat serta pelestarian sumber daya alam. Fungsi dari organisasi kemahasiswaan adalah sebagai manifestasi penyiapan diri untuk menjadi seseorang yang lebih dewasa dan mandiri setelah menyelesaikan studi dan kembali ke masyarakat.

Organisasi Kemahasiswaan pada tingkat Universitas terbagi atas 2 bentuk yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa yang sering di sebut dengan BEM dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Kegiatan ini dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang dapat dilaksanakan didalam maupun diluar kampus. Kegiatan tersebut tidak dimaksudkan untuk mendapatkan SKS.

Antara IPK tinggi dan Organisassi Mahasiswa, keduanya sama-sama berguna bagi tiap mahasiswa karena keduanya mempunyai tujuan yang positif bagi mahasiswa. IPK Tinggi dan Organisasi salin berhubungan erat dalam menempuh kesuksesan seorang mahasiswa. IPK Tinggi sangat berguna jika mahasiswa ingin melamar pekerjaan sesuai bidangnya, kemungkinan besar mereka akan diterima disetiap pekerjaan yang diminati.

Organisasi Kemahasiswaaan juga sama pentingnya dengan IPK tinggi. Dilihat dari
fungsinya bahwa organisasi ini merupakan bentuk manifestasi penyiapan diri mahasiswa untuk menjadi Agent Of Change setelah menyelesaikan studi hingga kembali ke masyarakat. Dengan berorganisasi kita akan mendapat berbagai pengalaman, pengetahuan serta channels untuk kedepannya nanti setelah lulus.

Dizaman sekarang ini channels sangat membantu untuk melangkah kedepan. Kita dapat lebih mudah mendapat pekerjaan yang sesuai dengan bidang kita jika kita mempunyai IPK Tinggi dan channel.

diperoleh dari pengalaman berorganisasi.
Read On 0 komentar
01.45.00
IPK TINGGI VS ORGANISASI MAHASISWA
Oleh: Aji Putra Wicaksana,.S.Kom


Banyak orang menganggap menjadi seorang mahasiswa adalah sesuatu yang membanggakan., karena menjadi mahasiswa bagi sebagian masyarakat berpendapat bahwa mereka adalah orang yang cerdas, berpendiddikan, mempunyai pola pikir yang lebih maju, dan mapan berasal dari lingkungan berada. Namun disisi lain ada pula yang berpendapat mahasiswa yang kuliah di sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN / Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ternama baru bisa dikatakan mahasiswa yang mempunyai kemampuan lebih dan kecerdasannya dapat bersaing setelah lulus mendapat gelar nanti. Tapi bagi masyarakat yang berpikir anak mereka harus kuliah meskipun tidak di perguruan tinggi ternama, mereka berpikir sebuah perguruan tinggi ternama bukanlah jaminan bagi anak mereka untuk mendapatkan pekerjaan denagn mudah.Bagi mereka apabila anak mereka memang mempunyai potensi maka mereka akan sukses. Dilihat dari fenomena ini apakah seorang mahasiswa yang mempunyai IPK Tinggi atau Organisasi Mahasiswa, mana yang lebih berguna? Hal ini cukup beralasan mengingat bahwa ada mahasiswa yanglebih mementingkan nialia yang sempurna sehingga di akhir semester mereka mendapatkan IPK tinggi dan memuaskan dan konon itu dapat menguntungkan bagi mahasiswa itu sendiri ketika melamar pekerjaan. IPK kadang menjadi momok yamg menyeramkan ketika seorang mahasiswa yang mempunyai tingkat kecerdasan dan kemampuan yang pas-pasan., karena mereka harus mengulang salah satu mata kuliah yang dianggap gagal dalam mendapatkan nilai yang baik/sempurna, ini merupakan salah satu alasan kenapa mahasiswa tidak lulus tepat pada waktu kelulusan yang telah ditentukan.

Akan tetapi bagi mahasiswa yang berpikir bahwa IPK tinggi bukan jaminan sukses didunia kerja, melainkan seorang mahasiswa juga harus bisa berorganisasi sebagai bekal mereka kelak dalam menghadapi dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat. Setidaknya mereka pernah mengenal bagaimana cara kerja didalam suatu organisai. Melalui organisasi mahasiswa, mereka dapat berlatih dalam dunia politik, seni, ekonomi dan sosial. mempunyai pengalaman membuat struktur organisasi serta pengalamn memimpin dan dipimpin.

Organisasi mahasiswa dibentuk bukan tanpa alasan, organisasi mahasiswa didirikan dalam rangka mengembangkan potensi diri kearah perluasan wawasan, peningkatan cendikiawan dan pengembangan potensi mahasiswa yang mempunyai bakat atau potensi tependam. Hal ini bisa dianggap sebagai pemanasan sebelum mereka terjun langsung ke dunia kerja yang nantinya juga menuntut mereka untuk masuk dalam sebuah organisasi.

Memang dalam hal ini organisasi mahasiswa dianggap tidak mempunyai peranan penting didalam perkuliahan di kelas, tapi disisi lain ini berguna dan melatih mental mereka untuk beropini, berdebat dengan orang lain serta mempunyai pengalaman dalam bergaya bicara yang baik dalam mengahadapi lawan bicara. Menurut kenyataan yang ada mahasiswa yang telah terjun dalam dunia organisasi pasti mental mereka lebih berani dan tidak canggung untuk kritis dan mengeluarkan pendapat maju didepan audience,sealin itu sedikit banyak kita berlatih untuk bertanggug jawab moral kepada orang lain, didalam perkuliahan juga sedikit banyak menuntut mahasiswa untuk kritis dalam pelajaran serta berpendapat mengeluarkan argumen-argumen yang ada. Kita tidak hanya pasif dalam mendapatkan ilmu pengetahuan tapi kita juga berlatih memecahkan masalah sendiri. Ini merupakan pengalaman yang berharga yang tidak ternilai harganya karena sedikit banyak kita telah terbiasa dan mempunyai mental yang kuat menghadapi kenyataan, tahu cara kerja organisasi hingga manifestasi penyiapan diri untuk menjadi agents of change setelah menyelesaikan studi dan kembali kemasyrakat.

Memang IPK tinggi merupakan syarat mutlak bagi seorang mahasiswa karena seorang mahasiswa bisa dikatakan berhasil dan menguasai bidangnya apabila mereka lulus dengan hasil yang memuaskan selama menyelesaikan studinya bertahun tahun. Namun apakah langsung berpuas diri dengan IPK yang tinggi jika tidak ada bekal pengalaman nyata berorganisasi serta pelatihan mental yang cukup dalam menghadapi kehidupan bermasyrakat. Bagaimanapun juga, kita yang melakukan tugas tersebut sebagai seorang mahasiswa. Apakah kita harus memilih mana yang lebih berguna kelak. Setidaknya kita bisa menyimpulkan sendiri apakah dengan bergabung di organisasi mahasiswa kita dapat melatih mental kita, dan apabila kita memilih IPK tinggi lebih penting sebagai bekal di dunia kerja. Itu semua kembali kepada diri kita dalam mengambil keputusan yang terbaik dalam kehidupan kita.
Read On 0 komentar
21.56.00
Himpunan Mahasiswa Manajemen Informatika
STMIK Bani Saleh Bekasi

Sekretariat : STMIK Bani Saleh Bekasi (Kampus A)
Jl. M. Hasibuan No.68 - Bekasi
17113

E-mail : himamika_stmik_banisaleh@yahoo.co.id

Telp/Hp : 085710666004

Blog : himamikastmikbanisaleh.blogspot.com
Read On 0 komentar
21.31.00
Buat kamu-kamu yang mau mencoba cara menginstalasi windows XP pada PC dirumah tanpa memanggil teknisi atau membawa PC ke rental, kini HIMAMIKA mencoba untuk memberikan solusinya.

Caranya gampang, yaitu :
Langkah pertama, silahkan kamu beli CD Software Windows XP di rental komputer atau tempat yang menyediakan software-software komputer (Kalo yang Asli mahal harganya, mending beli yang bajakan aja, terkecuali kamu punya uang banyak).

Langkah kedua, coba kamu klik alamat dibawah ini pada jendela baru, kemudian ikuti langkahnya.


http://webdosen.bl.ac.id/dosen/070023/langkah%20instalasi%20windows%20xp.pdf


Selanjutnya, kamu bisa simpan di Hardisk atau USB kamu, lalu kamu print dan ikuti langkah-langkahnya.

Kami yankin sekali, bahwa jika kamu mau mencoba, pasti kamu bisa menginstal windows dengan sendiri.

Good Luck....
Read On 0 komentar

Buku Tamu


ShoutMix chat widget

Followers